Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » Komunitas » An-Nadzir

Profil Komunitas An-Nadzir di Mawang Kabupaten Gowa-  An – Nadzir didirikan oleh Didirikan pada tahun 1998 oleh K.H. Syamsuri Abdul Majid, selanjutnya anggota jama’ah menyebut Al Imam Al Mahdi Abdullah atau biasa disingkat dengan sebutan AL-Imam. Sebelumnya beliau pernah aktif dalam gerakan dakwah Jama’ah Tabligh yang berpusat di Karachi, Pakistan. Kemudian menghimpun beberapa rekannya untuk memahami konsep pola pikirnya dan terbentuklah Annadzir yang kemudian memiliki ribuan pengikut yang sebagian besar adalah mantan pengikut gerakan Jama’ah Tabligh. Jama’ah An-Nadzir (selanjutnya disebut komunitas) membentuk permukiman di tepian danau Mawang berlokasi di kabupaten Gowa provinsi Sulawesi Selatan. Jarak yang harus ditempuh dari kota Makassar adalah sekitar 20 kilo meter. Di sinilah bermukim pula Amir(pemimpin) yang ucapannya menjadi rujukan bagi seluruh anggota komunitas yang masih bermukim di luar daerah Gowa seperti kabupaten Maros dan kota Palopo. Selain di Sulawesi Selatan juga terdapat di kota Medan (Sumatera Utara) dan Jakarta serta sebagian kecil di luar negeri.

Lokasi komunitas ini sekitar 500 meter keluar dari jalan poros. Menempati rumah-rumah yang terbuat dari bambu dan beratap daun membuat mereka merasa telah bermana khidmat pada alam. Meski tidak terlalu jauh dari pusat hiruk pikuk perkotaan, namun suasana alam di pemukiman ini masih terkesan lestari. Pepohonan besar di sekitar rumah dan jalanan alternatif  di sekitar pemukiman yang masih berupa tanah, tanpa cor atau aspal. Anggota komunitas ini kurang lebih 1000 (seribu) jiwa dengan jumlah sekitar 130 (seratus tiga puluh) Kepala Keluarga.

Komunitas ini tidak beraktivitas membaur dengan masyarakat di sekitarnya. Mereka tidak memasukkan anak-anak ke dalam lembaga pendidikan formal yang ada pada umumnya.  Mereka mendidik anak-anak usia sekolah dengan konsep pendidikan yang mereka buat sendiri dalam sebuah madrasah yang terletak di tengah-tengah pemukiman.

Beberapa orang anggota jama’ah yang dianggap berkompeten di bidang pendidikan ditunjuk oleh Amir untuk menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga komunitas ini. Konsep pendidikan yang mereka terapkan adalah pendidikan berbasis alam. Di dalam kelas mereka hanya belajar Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Matematika. Selebihnya mereka mempelajari ilmu alam dengan cara langsung membaur dengan alam. Sebagai contoh, untuk mempelajari pola pertumbuhan tanaman sawah maka anak-anak di bawa langsung terjun di bidang pertanian, untuk memahami ilmu perkebunanmereka langsung masuk di area perkebunan, demikian juga untuk mendapatkan ilmu tentang perikanan maka mereka langsung terjun di area perikanan milik komunitas. Namun perlu digarisbawahi, bahwa komunitas ini tidak begitu saja membiarkan diri mereka jauh tertinggal dalam kecanggihan teknologi informasi. Dalam proses belajar mengajar, anak-anak diperkenalkan juga dengan computer jinjing (laptop), mereka juga mengakses berita melalui televisi yang ditempatkan hanya pada beberapa lokasi rumah dan hanya orang dewasa yang diperbolehkan menontonnya. Mereka juga memanfaatkan kendaraan bermotor sebagai sarana transportasi.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, komunitas ini memiliki lahan pertanian seluas 8 (delapan) hektar. Setiap kali masa panen maka setiap kepala keluarga mendapatkan jatah makanan pokok sesuai dengan kebutuhanya. Selain lahan pertanian komunitas ini juga memiliki lahan perkebunan dan perikanan serta bidang usaha lainnya.

Dalam mengelola mata pencaharian setiap anggota komunitas memiliki peran dan fungsi dalam mengelola setiap bidang usaha sesuai dengan kompetensi yang dimiliki masing-masing dan menurut keputusan Amir. Tidak ada seorangpun anggota komunitas ini yang memiliki mata pencaharian secara individual. Semua kebutuhan hidup anggota komunitas ditanggung bersama melalui bidang usaha yang dikelola bersama.

Dalam berpakaian, komunitas ini meyakini bahwa warna hitam adalah warna yang disukai oleh Sang Pencipta. Sehingga ketika mereka beribadah mereka senantiasa berjubah hitam, dengan surban dan songkok yang berbentuk kerucut. Kaum pria dari komunitas ini memanjangkan rambut hingga sebahu dan mewarnainya dengan warna merah tembaga atau kuning emas.[ps]

Tags:

an nadzir sesat